♠ Posted by Unknown at 19.47
CANDI CANGKUANG-CANDI DI TENGAH DANAU
Pernah mendengar nama ini..? atau sudah pernah kesini gan..? Jalan-jalan ke daerah Garut, Jawa Barat yuk..
Candi
ini pertama kali ditemukan pada tahun 1966 oleh tim peneliti Harsoyo
dan Uka Candrasasmita berdasarkan laporan Vorderman (terbit tahun 1893)
mengenai adanya sebuah arca yang rusak serta makam leluhur Arif Muhammad
di Leles. Selain menemukan reruntuhan candi, terdapat pula serpihan
pisau serta batu-batu besar yang diperkirakan merupakan peninggalan
zaman megalitikum. Penelitian selanjutnya (tahun 1967 dan 1968) berhasil
menggali bangunan makam.
Walaupun
hampir bisa dipastikan bahwa candi ini merupakan peninggalan agama
Hindu (kira-kira abad ke-8 M, satu zaman dengan candi-candi di situs
Batujaya dan Cibuaya?), yang mengherankan adalah adanya pemakaman Islam
di sampingnya.
Geografi:
Candi
Cangkuang terdapat di sebuah pulau kecil yang bentuknya memanjang dari
barat ke timur dengan luas 16,5 ha. Pulau kecil ini terdapat di tengah
danau Cangkuang pada koordinat 106°54'36,79" Bujur Timur dan 7°06'09"
Lintang Selatan. Selain pulau yang memiliki candi, di danau ini terdapat
pula dua pulau lainnya dengan ukuran yang lebih kecil.
Lokasi
danau Cangkuang ini topografinya terdapat pada satu lembah yang subur
kira-kira 600-an m d.p.l yang dikelilingi pegunungan: Gunung Haruman
(1.218 m d.p.l) di sebelah timur - utara, Pasir Kadaleman (681 m d.p.l)
di tenggara, Pasir Gadung (1.841 m d.p.l) di sebelah selatan, Gunung
Guntur (2.849 m d.p.l) di sebelah barat-selatan, Gunung Malang (1.329 m
d.p.l) di sebelah barat, Gunung Mandalawangi di sebelah selatan-utara,
serta Gunung Kaledong (1.249 md.p.l) di sebelah timur.
Bangunan
Candi Cangkuang yang sekarang dapat kita saksikan merupakan hasil
pemugaran yang diresmikan pada tahun 1978. Candi ini berdiri pada sebuah
lahan persegi empat yang berukuran 4,7 x 4,7 m dengan tinggi 30 cm.
Kaki bangunan yang menyokong pelipit padma, pelipit kumuda, dan pelipit
pasagi ukurannya 4,5 x 4,5 m dengan tinggi 1,37 m. Di sisi timur
terdapat penampil tempat tangga naik yang panjangnya 1,5 m dan lébar
1,26 m.
Tubuh
bangunan candi bentuknya persegi empat 4,22 x 4,22 m dengan tinggi 2,49
m. Di sisi utara terdapat pintu masuk yang berukuran 1,56 m (tinggi) x
0,6 m (lebar). Puncak candi ada dua tingkat: persegi empat berukuran 3,8
x 3,8 m dengan tinggi 1,56 m dan 2,74 x 2,74 m yang tingginya 1,1 m. Di
dalamnya terdapat ruangan berukuran 2,18 x 2,24 m yang tingginya 2,55
m. Di dasarnya terdapat cekungan berukuran 0,4 x 0,4 m yang dalamnya 7 m
(dibangun ketika pemugaran supaya bangunan menjadi stabil).
Di
antara sisa-sisa bangunan candi, ditemukan juga arca (tahun 1800-an)
dengan posisi sedang bersila di atas padmasana ganda. Kaki kiri
menyilang datar yang alasnya menghadap ke sebelah dalam paha kanan. Kaki
kanan menghadap ke bawah beralaskan lapik. Di depan kaki kiri terdapat
kepala sapi (nandi) yang telinganya mengarah ke depan. Dengan adanya
kepala nandi ini, para ahli menganggap bahwa ini adalah arca Siwa. Kedua
tangannya menengadah di atas paha. Pada tubuhnya terdapat penghias
perut, penghias dada dan penghias telinga.
Keadaan
arca ini sudah rusak, wajahnya datar, bagian tangan hingga kedua
pergelangannya telah hilang. Lebar wajah 8 cm, lebar pundak 18 cm, lebar
pinggang 9 cm, padmasana 38 cm (tingginya 14 cm), lapik 37 cm & 45
cm (tinggi 6 cm dan 19 cm), tinggi 41 cm.
Candi
Cangkuang sebagaimana terlihat sekarang ini, sesungguhnya adalah hasil
rekayasa rekonstruksi, sebab bangunan aslinya hanyalah 35%-an. Oleh
sebab itu, bentuk bangunan Candi Cangkuang yang sebenarnya belumlah
diketahui.
Candi ini berjarak sekitar 3 m di sebelah selatan makam Arif Muhammad.
Melihat
bentuknya, candi Cangkuang dapat dibandingkan dengan kelompok candi di
Gedongsongo (Candi II) dan Dieng (Candi Puntadewa). Bentuk profil bagian
kaki, badan, dan atap mempunyai kesamaan. Demikian juga pintu masuknya
mempunyai penampil. Atapnya terdiri dari tiga tingkat dan masing-masing
tingkat terdapat hiasan mercu dan hiasan? antefix. Kalau pada bangunan
candi di Jawa Tengah mempunyai hiasan antefix yang diukir dengan hiasan
sulur daun, maka pada Candi Cangkuang hiasan antefix-nya polos. Hiasan
lain yang pada pintu masuk candi di Jawa Tengah adalah hiasan kala dan
makara, maka pada Candi Cangkuang hiasan ini tidak ada. Berdasarkan
perbandingan ini, dapat diduga bahwa bahwa Candi Cangkuang dibangun pada
sekitar abad ke-8-9 Masehi.
Candi
Cangkuang merupakan salah satu bangunan suci yang dibangun ideal sesuai
dengan konsep tata-ruang agama Hindu. Candi ini diumpamakan sebagai
Gunung Meru yang berdiri megah di tengah-tengah samudra yang dikelilingi
oleh rangkaian pegunungan. Udara sekitarnya cukup sejuk karena terletak
di dataran tinggi. Karena itulah Pemerintah daerah Kabupaten Garut
menjadikan daerah ini sebagai obyek wisata budaya dan wisata alam.
Danau
kecil atau biasa disebut dengan Situ membentang dengan bunga teratai
dan eceng gondok diatasnya. Situ Cangkuang, biasanya penduduk setempat
menyebut nama tersebut dan termasuk salah satu Situ yang sangat
bersejarah, karena ditengahnya terdapat sebuah bangunan candi. Candi
Cangkuang adalah satu-satunya candi yang dapat dipugar di daerah Jawa
Barat.
Nama
Candi Cangkuang disesuaikan dengan nama desa dimana candi itu
ditemukan. Desa Cangkuang berasal dari nama pohon yang banyak terdapat
disekitar makam Embah Dalem Arif Muhammad, namanya pohon Cangkuang,
pohon ini sejenis pohon pandan dalam bahasa latinnya ( Pandanus Furcatus
), tempo dulu daunnya dimanfaatkan untuk membuat tudung, tikar atau
pembungkus gula aren. Embah Dalem Arif Muhammad dan kawan-kawan beserta
masyarakat setempatlah yang membendung daerah ini, sehingga terjadi
sebuah danau dengan nama "Situ Cangkuang" kurang lebih abad XVII. Embah
Dalem Arif Muhammad dan kawan-kawan berasal dari kerajaan Mataram di
Jawa Timur. Mereka datang untuk menyerang tentara VOC di Batavia sambil
menyebarkan Agama Islam di Desa Cangkuang Kabupaten Garut. Waktu itu di
Kampung Pulo salah satu bagian wilayah dari desa Cangkuang sudah dihuni
oleh penduduk yang beragama Hindu. Namun secara perlahan namun pasti,
Embah Dalem Arif Muhammad mengajak masyarakat setempat untuk memeluk
Agama Islam.
Desa
Cangkuang terletak disebelah utara kabupaten Garut masuk Kecamatan
Leles, tepatnya berjarak 17 km dari Garut atau 46 km dari Bandung. Untuk
menuju situs Cangkuang dari arah Bandung, bisa menggunakan mobil
pribadi atau umum. Dari arah Bandung menuju Garut kita akan ketemu
dengan kecamatan Leles, ketika sampai di Leles ada sebuah papan petunjuk
yang sangat jelas yang menunjukkan posisi Candi Cangkuang. Masuk ke
dalam sejauh kurang lebih 3 km, dengan jalan beraspal dapat dilalui oleh
kendaraan baik roda dua maupun empat, bahkan masih dipertahankan
angkutan tradisional delman ( andong ). Apabila ditempuh dengan jalan
kaki memerlukan waktu kurang lebih 30 menit. Udara didaerah ini
tergolong sejuk, karena terletak di ketinggian 700 m diatas permukaan
air laut. Disepanjang perjalanan dari Leles ke desa Cangkuang kita akan
menyaksikan indahnya sawah yang hijau, disebelah utara kita akan melihat
Gunung Haruman, dan disebelah barat akan nampak Gunung Mandalawangi dan
Gunung Guntur yang menjulang tinggi.
Lebih
unik lagi disamping Candi cangkuang terdapat sebuah pemukiman yang
dinamakan dengan Kampung Pulo. Sebuah kampung kecil yang terdiri dari
enam buah rumah dan kepala keluarga. Ketentuan ini harus ditepati, dan
sudah merupakan ketentuan adat kalau jumlah rumah dan kepala keluarga
itu harus enam. Oleh karena itu bagi Kampung Pulo Desa Cangkuang sukar
atau relatif lama untuk berkembang, baik rumahnya atau penduduknya dari
keenam kepala keluarga tersebut. Sebagian besar dari penduduk Kampung
Pulo tersebut bermata pencaharian petani dengan tanah sendiri, dan
sebagian lagi sebagai petani penggarap tanah orang lain. Penduduk yang
menempati kampung ini merupakan penduduk keturunan ke tujuh dari Eyang
Dalem Arif Muhammad. Karena uniknya tempat ini, baik dari sejarah maupun
lokasinya, membuat daya tarik tersendiri buat wisatawan baik domestik
maupun luar negeri untuk mengunjungi tempat ini.






0 komentar:
Posting Komentar